Mahasiswa adalah civitas akademis yang dituntut memiliki
kesadaran belajar secara mandiri yang cukup tinggi, sistem pengajaran yang
diterapkan di perguruan tinggi tentu berbeda dengan apa yang mungkin kita alami
saat kita berada di bangku SMA. Di SMA kita mengenal apa yang namanya LKS yang
menurut saya sendiri itu salah fungsi dan memupuk kemalasan siswa, mungkin saat
kita SMA kita terlalu pasif dan di dekte dengan keaktifan guru kita. Dan saat
kita masih mengenakan seragam abu-abu dan menanggalkanya kemudian kita
menggantinya dengan jas almamater kampus kita maka kita juga harus mulai meninggalkan kebiasan-kebiasan yang ada
di bangku SMA. Saat dulu kita sering diterangkan oleh guru kita dikelas,
sekarang di bangku perguruan tinggi mahasiswa lah yang dituntut untuk aktif
berbicara dan aktif berdiskusi. Untuk mampu memahami apa yang akan kita
bicarakan di depan umum, mahasiswa dituntut untuk memiliki pengetahuan yang
lebih. Pengetahuan tersebut bisa diperoleh salah satunya dengan membaca. Dengan
membaca kita akhirnya banyak tahu, tidak hanya tahu secara umum tapi juga
membentuk kepribadian serta karakter mahasiswa sebagai kaum yang
berintelektual. Sebagai mahasiswa kita dituntut untuk banyak membaca referensi
sebanyak mungkin. Dan inilah yang kadang menjadi suatu permasalahan tersendiri
bagi mahasiswa seperti saya dan rekan sepenanggungan. Saya yang mungkin menjadi
korban dari kesalahan system kebudayaan yang salah, memberikan dampak yang saya
rasakan tidak keren sampai saat ini. Dulu waktu SD saya tidak suka baca, pada
saat SMP saya lebih suka tidur dikelas dan membaca saat ujian berlangsung, pada
saat saya SMU saya lebih suka berpikir kapan sekolah berakhir dan segera
pulang, tidak pernah terbesit dalam benak saya untuk menumbuhkan kegemaran
membaca. Dan akhirnya ini berdampak buruk sekarang. Menua dan menyesal dengan
berbagai penyesalan merupakan perasaan yang kurang menyenangkan dalam suatu
kehidupan. Berada di semester 6 dan akan
semakin menua di kampus semakin menuntut saya untuk berpikir lebih analitis dan
kritis sehingga harapanya saya memiliki pengetahuan yang cukup sebelum saya
keluar dari kampus ini. Untuk bisa memenuhi hal tersebut maka saya harus banyak
baca. Dan akhirnya meskipun sulit terasa. Saya mulai mencoba dari sekarang
untuk gemar membaca. Dan bagi teman2 diluar sana yang mungkin sependapat dengan
tulisan saya kali ini, maka saya dengan sangat berbangga mengucapkan selamat
kepada anda sekaian karena setidaknya anda telah tahu bagaimana langkah awal
untuk merubah penyesalan2 tersebut. Dengan anda membaca artikel ini sudah satu
tahap anda
Selasa, 20 Maret 2012
Kamis, 23 Februari 2012
JOMBLO ; "Pilihan Atau Kutukan"
Ada yang pernah mengatakan suatu statement konyol yang kurang bertanggung jawab kepada saya, hal ini dilontarkan oleh salah satu teman saya bernama alingga (kali ini saya sebut nama teman saya, agarnya dia juga ikut terkenal di dunia maya yang sesat ini), dengan kebijaksanaan retorika yang dia miliki bak logat Mario teguh dia berkata “single itu pilihan, jomblo itu nasib”. Sebuah statement singkat tak bertanggung jawab yang agaknya ada benarnya juga. Bagi kita yang seumur hidupnya BELUM pernah yang merasakan namanya “CINTA”, maka sesalilah hidup anda (ambil racun tikus dan minumlah), mengapa harus menyesal? Tentu. Karena anda sangat tidak beruntung untuk hal ini (take easy dude, aku juga begitu)-____- !!
Hmmmm… menindak lanjuti statement teman saya yang kurang bertanggung jawab ini, kenapa kesendirian ini perlu dipermasalahkan, tahukah anda ini adalah hal kecil yang sesungguhnya tidak perlu dipermasalahkan. Suatu perbedaan prinsip yang dipertanyakan.
Ada beberapa orang yang mengataan dia tidak mau pacaran dulu karena dia mau focus pada apa yang dikerjakanya, (yah terkadang orang seperti ini adalah macam orang kutu pintar, sisanya yang mengatakan ini hanyalah sebagai pembelaan diri) ini yang merujuk ke “single itu pilihan”. Ada juga yang mengatakan “gw belum pacaran karena belum waktunya dan belum ada yang cocok” (lebih mengarah ke orang yang ga laku sih, kemungkinan ada 2 orang seperti ini, kalo ga jelek ya pemalu), sebenarnya saya tidak mau mengatakan hal ini tapi stamen ini lebih merujuk ke “jomblo itu nasib” . lalu apa yang menjadi masalah dari dua statement itu? Mari kita bahas satu persatu.
Single itu pilihan dude
Sebenarnya bukan menjadi permasalah kalo ada statement “single itu pilihan”. Tapi yang seharusnya diperhitungkan untuk jadi pilihan adalah bagaimana dampak2 yang diberikan dari apa yang kita pilih. Okelah kita memilih untuk pacaran karena untuk kesenangan sesaat, tetapi tidak menutup kemungkinan juga orang yang kamu pacari nanti akan jadi pasangan hidupmu yang sebenarnya? Toh juga apa yang kita pikirkan kedepan juga belum pasti, sesuatu bisa terjadi dan apapun mungkin. Dan yang perlu kita pikirkan adalah apa dampaknya kepada kita. Kalo kita pacaran apakah pacar kamu bisa ngerti and support kamu? Belum tentu juga, dan kamu ga bisa memastikan itu. Bagaiamana kalau sebaliknya? Bagaiamana kalo ternyata pacar kamu lebih menghambat karir kamu, itu yang susah. Sesuatu yang perlu dipikirkan lebih lanjut.
Lalu gimana buat yang memilih untuk ga pacaran dulu? Itu juga baik. Dengan alasan untuk focus dengan masa depanya, saya rasa itu hal yang sangat tepat. Tapi akan jadi sangat menyebalkan saat kamu tidak bisa mempertanggung jawabkan prinsipmu. Kamu memilih untuk tidak berpacaran tapi hasil prestasimu gitu-gitu aja? Terus apa yang salah dong? Ga ada yang salah? Tapi ada yang kamu lewatkan. Bahwa hidupmu menjadi sangat sia-sia saat kamu memutuskan untuk terlalu focus di kehidupanmu tapi kamu malah ga dapat apa2? Dan pada siapa kamu harus mempertanggung jawabkan prinsip hidupmu itu? Apa pada orang tuamu? Saya rasa orang tuamu bakalan tidak peduli akan hal itu. Dan pada saatnya nanti kamu akan menemukan sebuah polemik kehidupan saat kamu akan menikah. “SIAPA CALON GW!!!”. Hidup memang penuh pilihan dude. Ambil yang baik dan bawa pulang, bukan berarti karena kamu milih untuk mikir masa depanmu itu selalu bagus, dan bukan berarti kamu pacaran itu membangun karir kamu. Yang terpenting disini adalah kita harus tahu apa yang benar2 baik buat kita. Dan ga perlu terlalu dipikirin deh, everything flow like the water. Jadi nikmati aja. Prinsip perlu ditetapkan tapi ga masalah kalo missal prinsip itu berubah ditengah yang penting adalah tujuan kamu kan Cuma satu “SUKSES DAN BAHAGIA” dan untungnya tidak ada standart baku yang mengatur hal ini.
Jomblo itu nasib lu
Mereka yang mengatakan jomblo itu nasib yang buruk adalah mereka yang iri pada kita yang jomblo, kenapa mereka iri? karena terkadang pacaran itu ga se-menyenangkan dengan apa yang pernah kita (orang2 jomblo) bayangkan. Akan jadi hal yang sangat tidak enak saat kamu sama pacar kamu pas lagi makan bareng di suatu restaurant atau café, atau warteg berantem gara2 satu hal konyol, yaitu “siapa yang bayarin”. Suatu konflik kegengsian yang sangat material bila hal ini terjadi. Dan bagaimana pertengkaran itu bisa membawa ke suatu permasalahan hati yang bisa membuat kita putus dengan si doi adalah hal konyol kedua. Kita sebagai orang jomblo harusnya bangga, karena kita bisa menentukan apa segala sesuatunya dengan bebas semau kita bisa. Jadi saya rasa gampang saja untuk menanggapi statement kalau jomblo itu nasib. Jawab aja dengan satu statement yang bijaksana “kalau jodoh itu ditangan tuhan dan ga akan kemana2” saya rasa sudah cukup mewakili berbagai alasan lain yang kurang keren.
Yah sudah cukup panjang gw cerita, inti dari apa yang harusnya kita lakukan adalah, enjoy aja dengan statusmu mau single, jomblo, lajang atau #jalang yang penting kita bisa asyk dengan hal itu dan kita bisa melakukan hal yang terbaik bagi kita dan lingkungan kita. Ga peduli siapapun pacarmu atau gimana nanti jodohmu, karir dan kesuksesan adalah hal pertama yang perlu kamu kejar. Sebelum pasangan hidup kita cari. Yang terpenting adalah nafkah hidupmu. Karena akan sangat ga keren kalo kamu punya pasangan tapi ikut makan dengan uang orang tuamu. Itu sama saja kita menambah anak angkat orang tuamu, jadi mungkin saja pacarmu itu adalah saudara barumu.
Sekian satu lagi urek-urek sampah dari saya harmadhani adi. Semoga satu hal ini bisa menjadi hal yang memotivasi kamu dalam menjalani hidup yang fana ini. Sekian dan terima kasih.
Jumat, 10 Februari 2012
Demo : "Sebuah Kekonyolan dan Ketidak jelasan Pt#2"
Bukan cita-cita dari sebagian mahasiswa untuk melakukan aksi demo dalam kehidupan selama ngampus. Beberapa mengatakan hal tersebut konyol adanya, beberapa lainya mengatakan hal tersebut merupakan salah satu hak mahasiswa untuk melakukan analisis social terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat. Dua pendapat ini sebenarnya tidak pernah menjadi seheboh ini sampai tulisan ini diposting (sebenarnya sampai sekarang juga tidak pernah heboh). Lalu bagi anda yang mahasiswa bagaimana menanggapinya? Pendapat saya? Bila demo itu dilakukan adalah sangat benar konyolnya (pendapat pribadi, everything is possible if you think with any views). Kenapa konyolnya? Saya tidak akan berkata hal ini konyol kalau saya tidak melakukanya. Pengalaman sekali seumur hidup dan harus segera dihapuskan dari memori otak yang mulai penuh dengan pikiran jorok.
Melanjutkan cerita dari masjid, penulis dan tulisanya sempat
nginep di masjid selama beberapa malam. Di usir oleh pengelola masjid karena dianggap
sangat merepotkan (ga Cuma numpang nginep, numpang makan, numpang dicuciin,
numpang ke kampus). Dan inilah kelanjutanya.
Masjid merupakan tempat ibadah bagi masyarakat beragama
islam. Di dalamnya tentunya kita melakukan hal yang bersifat religious seperti
sholat, berdzikir, membaca al-qur’an, bergurau di teras, makan gorengan, tidur
sambil nunggu kuliah (fenomena yang perlu diangkat sebagai skripsi di kampus
saya), tetapi entah apa yang terjadi, dengan berbagai alasan yang saya pikir
hal itu benar gerombolan “akhir” dari demo ini tidak berpikir demikian. Mereka
melakukan apa yang sepatutnya itu biasa saja, gerombolan ini dengan semangat
kehujanan hanya melewati masjid itu tanpa menyambanginya terlebih dahulu
(sebagian sudah sholat, sebagian mungkin lupa, sebagian lainya saya belum
menanyakanya, let’s be positive thinking). Entah ini suatu karma, kutukan,
azab, bencana, atau apapun kalian menyebutnya. Setelah melewati masjid kita
dihadapkan pada sebuah (lebih tepatnya empat) pilihan yang menyesatkan. Tepat
di depan mata kami ada sebuah perempatan biasa yang seharusnya itu memang
perempatan biasa hanya saja hujan, lalu menariknya apa? yang menjadi luar biasa
tidak masuk akalnya adalah, dari beberapa belas orang unik yang ada disana
hamper semuanya tidak tahu kemana larinya gerombolan demo yang berjalan lebih
dulu tadi? (sisanya berpikir dengan ke sok tahuan). Kita2 yang memang dari
awalnya ga niat berdemo memang sengaja tidak mengetahui route perjalanan demo
ini, mau ke Fmipa, F teknik, atau mau pulang ke kost. Dari 14 orang (dikira
kira, bisa berubah sesuai kebutuhan) hanya satu orang bijaksana yang harusnya
tahu, karena hanya satu orang yang kami anggap bijak inilah yang ikut rapat
aksi demo ini. Akan tetapi betapa WTF-nya orang tolol satu ni juga tidak tahu
kemana harusnya gerombolan itu pergi. Dalam kagalauan tingkat tinggi kita hanya
diam di tengah2 perempatan besar yang merupakan jantung lalu lintas kampus pendidikan
tsb. Diam bak orang tolol, dianggap pengemis jalanan, berteriak teriak bak
orang gila, frustasi, galau, update status di facebook “men keren gw nyasar pas
demo” atau update di twitter “ Cemungudh Eaph kakagh RT @inadexpyro nyasar
dengan orang bego à
RT @alinggamahatma ada apa ini tuhan? “, main aer kayag bego autis, Mulai
menyesali kenapa tadi ga mampir ke masjid dulu, lumayan beli gorengan. Ditambah
penderitaan datangnya beberapa orang susulan yang kami tidak mengharapkan
mereka. Sangat membuat hal ini jadi konyol luar biasa, sekarang coba bapak ibu
bayangkan, dimana anda bisa menjumpai cerita tentang sekelompok orang yang
berdemo dan mereka “NYASAR” selain di sini (mungkin banyak di google).
Saya sangat menyarankan kepada kalian mahasiswa awam yang
ingin melakukan aksi long march, SATU hal pesan saya, tolong. Untuk selalu
membawa ransel, karena ini akan sangat berguna kalau-kalau anda sama bodohnya
dengan saya. Ransel ini diharapkan mampu membantu kita dalam memanggil “peta”,
seperti certia dora dan monyetnya (anda bisa menganggap monyetnya saya, tak
apalah).
Dalam kesuraman wajah, kami mulai menemukan secercah harapan
redup yang mungkin menyelamatkan nyawa kita dari lembah suram ini. Gerombolan
tadi mulai tampak dengan teriakan serak khas mereka, muncul dengan ke “keren”
an tersendiri menunjukan jalan benar menunju jalanNYA. Dalam hati sendiri saya
bersorak “hore…. akhirnya kau lepaskan aku dari kebegoan ini, ayo bimbing aku
menuju idiot lainya”. Kami langsung saja menghampiri mereka dengan langkah
tergopoh gopoh seperti tuna wisma yang belum makan seratus hari. Setelah
bergabung kembali dengan mereka yang “benar” kami melanjutkan cerita sesat ini
dengan penuh liku. Rintangan berikutnya datang, berbaris dengan formasi
pengibar bendera 17-an kami dilihat ratusan mahasiswa yang seperti melihat
karnaval dan topeng monyet (anjritzz ini bukan topeng, ini wajah gw njink).
Dengan tatapan mereka seperti itu saya seperti terlihat konyol. Tapi dengan
prinsip kecuekan saya tetap melanjutkan kegilaan ini sampai acara demo konyol
ini berakhir dan betapa menyebalkanya akhirnya satu prinsip dasar hidup saya
terpatahkan, bahwa demo adalah ahal yang benar2 tidak menyenangkan dan tak akan
pernah menjadi menyenangkan. Buat kalian yang konyol yang membaca tulisan ini,
saya mengingatkan anda mumpung belum terlanjur untuk melakukanya segera hapus
keinginan itu dari pikiran nada SEGERA.
Kamis, 02 Februari 2012
Demo : "Sebuah Kekonyolan dan Ketidak jelasan"
Demonstrasi adalah tindakan untuk menyampaikan penolakan, kritik, ketidakberpihakan, mengajari hal-hal yang dianggap sebuah penyimpangan. Maka dalam hal ini, sebenarnya secara bahasa demonstrasi tidak sesempit, melakukan long-march, berteriak-teriak, membakar ban, aksi teatrikal, merusak pagar, atau tindakan-tindakan yang selama ini melekat pada kata demonstrasi.
Selasa, di suatu tanggal di bulan January di akhir zaman.
Saya melihat beberapa mahasiswa di kampus saya yang tidak perlu disebutkan
namanya (lu kan bisa liat di profile gw?
Bego nih penulis….!!) sedang melakukan aksi “long March” menyusuri kampus ditengah
hujan yang sebenarnya tidak cukup deras tetapi cukup dikatan sebagai hujan yang
menghambat bagi sebagian orang yang “kemenyek”. Aksi yang menyita perhatian
sejimpit mahasiswa tersebut saya nilai sangat konyol, tidak masuk akal, dan
sangat bertolak belakang dengan prinsip ke apatisan saya sebagai seorang
mahasiswa. Betapa tidak konyolnya?? saat sebagian mahasiswa seharusnya
menghabiskan waktunya untuk belajar, dan sebagian sisanya menghabiskan waktunya
di kantin, ngopi, nongkrong, ngeblog, dan ngeposting tulisan ini. Disini malah
ada sekelompok mahasiswa yang melakukan perilaku yang tidak disebutkan dalam
detail pembayaran SPP?, entah kenapa ini menjadi sangat perlu di kritisi karena
apa? Karena saya juga ikut di dalam barisan aksi tersebut (0.o) dan kali ini saya akan berbagi sebuah cerita
konyol saat saya melakukan aksi demo pertama saya bersama beberapa teman yang
sebagian tidak mengerti kenapa saya ikut menyeretnya dalam tulisan ini.
“Saya sangat menyarankan kepada anda para orang tua untuk
memberikan bimbingan, dampingan, serta perlindungan kepada anak2 anda sehingga
anak2 anda tidak meniru apapun yang anak anda baca disini, (disini saya sangat
mendukung perlu adanya parental advisory,
sebagian yang diceritakan disini terdapat adegan tidak layak dikonsumsi yang
sifatnya rekayasa dan fatamorgana), apapun yang menjadi dampak dari bacaan ini
bukan menjadi tanggung jawab penulis dan tukang bakso di depan saya. Bacaan
apapun yang sudah anda baca tidak dapat dikembalikan dalam bentuk dan alasan
apapun jua, kami tidak menerima penjualan kredit.“
Sebuah selasa wage jam sekian siang di tengah hujan deras
yang mulai meredup karena lupa bayar listrik dan air. Berkumpulah sekelompok
mahasiswa yang tergabung dalam aliansi mahasiswa anti harmadhani (nama aliansi
sengaja di samarkan karena dianggap kurang keren), beberapa mahasiswa tersebut
berencana melakukan aksi demo untuk melampiaskan kekecewaanya atas dipilihnya Adi HArmadhani sebagai mahasiswa ganteng di
kampusnya (kepentingan tersebut juga sengaja di samarkan karena sesungguhnya
kepentingan yang ditulis disini juga merupakan fitnah kepada penulis belaka).dalam
damai, saya sebenarnya sedang memimpin sebuah rapat penting di organisasi yang
saya ikuti. Di tengah akhir acara salah seorang kerabat terdekat saya (sedang
duduk di sebelah saya juga sih) tiba2 secara sukarela (bukan paksa) menarik
saya untuk ikut dalam aksi tersebut, dengan alasan saya cocok untuk jadi bahan
pelampiasan emosi aksi yang marah ini. Sebenarnya saya sangat keberatan, akan
tetapi karena bujukan dari 147 mahasiswa yang ada di ruang lobby fakultas serta
karena adanya media pers dari CCTV yang mengabadikan aksi tersebut yang juga kemungkinan
membuat saya semakin terkenal hinanya membuat kata-kata “anang” terngiang dihatiku
yang akhirnya saya luluh juga untuk mengikutinya.
Berkumpul dan
berencana berangkat dari depan gedung fakultas ilmu pendidikan, saya dan beberapa
teman2 “ANEH” saya berkumpul bersama
beberapa sahabat dari suatu golongan yang tidak perlu disebutkan nama orang tua
dan NIMnya, membahas bagaimana aksi ini akan berlangsung, datang kesana dengan
kepolosan, ketololan, dan kepedesan, disambut dan disuguhi dengan berbagai
macam hal yang membludak diantaranya kertas bertuliskan orasi kekecewaan,
beberepa hymne yang bahkan nadanya saya tidak ingat (menurut penuturan salah
satu demonstran, lagu tersebut bisa didownload di 4shared), seruan, yel-yel
yang semuanya saya tidak paham maksudnya. Kami berbaris dengan formasi timnas
garuda muda dan ditali layaknya segerombol sapi yang akan disembelih,
mendengarkan orator (atau pemimpin barisan atau apalah namanya) berorasi
mengeluarkan kata2 hinaan, makian, kekecewaan pada sebuah operator kartu CDMA
yang lupa akan kewajibanya untuk menjadi provider GSM.
Dimulai pada pukul 2 sakit sekali kita mulai long march dari
depan gedung fakultas pendidikan yang
nantinya akan berputar ke fakultas ekonomi dan langsung ke rute yang telah
ditentukan sebelumnya, baru ada beberapa kaki (artinya baru beberapa langkah)
saya berhenti dipojokan (merenung) karena saya bersama teman2 unik saya sempat
disambut oleh kelompok lain yang kita belum bersahabat dengan mereka, beberapa
yang lainya tetap meneruskan long march tersebut dan tak acuh pada beberapa
kelompok yang ga jelas itu. Saya dan 2 orang teman unik saya berhenti tetap
disitu bukan karena alasan ketidak gentle an kami. Tetapi kami berhenti karena
kami merencanakan sebuah rencana pelarian dari sebuah bangsal pemaksaan. Di
tengah saya berimajinasi, tibalah rombongan kedua yang menyelamatkan (lebih
tepatnya menyesatkan) kami. Kelompok yang datang dari sebuah asap kopi cethe
berlagak bagaikan pahlawan kehujanan dan berbicara bijak “mari kita lanjutkan
petualangan ini” (emang ini dora??), dengan terbata-bata kami tidak mampu untuk
menolak ajakan bijak tersebut. Dengan langkah keren tergopoh-gopoh dan
terseok-seok, kami melanjutkan perjalanan binal tersebut. Di perjalanan menuju
fakultas sastra kita lebih banyak diam dan bercanda, mengeluarkan makian kepada
seseorang gemuk yang jelas bukan saya. Dan menghina seorang bernama harmadhani
yang sayapun bahkan tidak mengenalnya. Setelah melewati fakultas sastra kami
berhenti di masjid untuk menghentikan sesaat cerita ini, dan betapa
menyebalkanya cerita ini bersambung.…
Kecewa? Tunggu beberapa saat lagi obor menyala dan siap2
untuk membakar blog ini, nantikan obor (bagian) paling panasnya minggu depan.
Senin, 30 Januari 2012
Berbagi : "Satu Cara, Untuk Kita Semua"
Iseng-iseng dengan tugas yang diberikan oleh dosen kepada saya. Dan setelah saya tinjau kembali saya rasa tulisan ini bolehlah menambah beberapa tumpukan kertas sampah elektronik yang biasa muncul situs pencarian mbah google, sebenarnya tulisan ini sangat dituntut kerahasiaanya menurut teman saya, tapi tak apalah karena berbagi apa yang kita punya itu indah dan menyenangkan, ini adalah suatu tulisan yang saya rasa cukup recommended untuk saudara baca karena harapanya ini akan menambah kemampuan kita dalam mengerti sesama.
Berbagi merupakan salah satu
gerakan hati untuk membiarkan orang-orang yang ada disekitar kita ikut
menikmati apa yang sedang kita nikmati. Berbagi tidak harus secara materi,
tetapi bisa melalui tindakan, perkataan, dan perasaan. Dalam seminggu terakhir
ini saya mengalami sebuah pengalaman yang menurut saya merupakan pengalaman
berbagi yang tidak biasa dilakukan orang orang pada umumnya dan bisa diterpakan
setiap saat dan kapan saja.
Beberapa minggu terakhir ini saya
merasa dalam kondisi yang buruk, sakit tak ada hentinya dan sampai sekarang
kondisi juga tidak kunjung membaik 100%. Akhirnya saya teringat dan percaya
pada perkataan seseorang bahwa “saat seorang sakit maka semua akan terlihat
lebih jelas dan perasaan spiritualmu akan terbuka”. Sakit selama dua minggu
membuat saya lebih banyak diam dan tidak lagi banyak mengeluarkan kata-kata
picisan yang dikaran dan dirangkai sedemikian rupa. seperti biasanya. Pada saat sakit seseorang
biasanya akan meminta perhatian lebih dari orang-orang sekitarnya, malangnya
hal itu tidak terjadi pada saya. Beberapa hari saya sakit dan mulai membaik.
Saya mulai sadar ,pikiran saya terbuka dan isi otak berhamburan kemana-mana
(yeah! sudahlah lupakan -.-). Pertanyaanya kenapa beberapa orang disekitar saya
tidak merespons permintaan perhatian saya, adalah karena hukum kekekalan energy
mengatakan bahwa “setiap energy positif yang kita keluarkan maka energy positif
tersebut akan kembali pada orang yang mengeluarkanya. Hal ini saya sadari saat beberapa
hari lalu saya menghadiri rapat perdana sebuah ormawa eksekutif di kampus saya
(sebut saja BEM FE UM, bukan initial samaran). Saat keadaan saya sudah mulai
membaik segala membaik selera humor saya bangkit. Beberapa perkataan yang
sebenarnya saya anggap biasa, entah kenapa dianggap lucu bagi teman-teman saya
dan mereka menyukainya. Dari hal tersebut mereka memberikan respons berupa
penghargaan konyol atas apa yang sudah saya lakukan.
Dari sini saya mengerti bahwa
berbagi kadang tidak selalu berupa materi tetapi juga bisa berupa satu atau
beberapa perkataan yang bisa memberikan perasaan senang bagi yang menikmatiya. Dan
ini juga membuktikan hukum kekekalan energy yang telah saya jelaskan tadi
Di hari berikutnya cuaca yang
berangin kencang seperti badai menerpa kota malang tercinta, membuat kondisi
saya semakin drop lagi. Berbicara pun menjadi tidak nyaman, makan pun tidak
nyaman, minumpun tidak nyaman bahkan tidurpun dimarahi dosen (sungguh tidak
berperi kesakitan dan ketiduran) , jujur saya termasuk orang yang kurang rajin
dalam beribadah, sholatpun hanya dilakukan saat ingat dan kebanyakan lupa,
makanpun juga jarang (apa hubunganya? (¬˛ ¬ )). tetapi satu hal yang luar biasa saya
rasakan adalah sejak saat sakit yang mendera selama 2 minggu ini membuat saya
selalu ingat akan sholat, subbhanallah dan saya menyadari betapa hebatnya keEsaan
allah swt. Bahkan menurut saya sakit yang mendera dan tidak menyenangkan inipun
bisa berbagi sebuah pengalaman spiritual yang luar biasa yang cukup membuat
saya sadar betapa kurang bergunanya saya selama ini.
Pada penulisan tugas ini akhirnya
saya mengerti suatu hal bahwa bahkan bukan Cuma manusia yang mampu berbagi
bahkan sakit, sedih, bingung dan segala pengalaman pengalaman buruk akan mampu
berbagai pengalaman lain yang mampu meningkatkan olah hati seseorang.
Dari tulisan yang sudah saya
susun yang sudah cukup menyita waktu saya, akhirnya saya menyimpulkan bahwa
sesungguhnya berbagi bukan hanya memberikan apa yang kalian punya untuk
dinikmati bersama, tetapi berbagi juga adalah seberapa besar yang sudah bisa
kamu berikan dan seberapa pantas dirimu untuk menerima hal-hal untuk dibagi
tersebut. Tidak semua orang pantas untuk menerima hal untuk dibagi, seseorang
haruslah sadar bahwa berbagi merupakan proses timbal balik yang sifatnya otomatis
untuk dilakukan tanpa orang tersebut harus memikirkan bagaimana membalasnya. Hal
inilah yang akan menimbulkan sinergi postif dan aura postif yang mendukung hukum
kekelan energy yang sudah saya jelaskan diatas.
Demikianlah tulisan yang sebenarnya menjadi sebuah tugas
saya di satu mata kuliah ini saya buat (beberapa diedit sih sebenarnya), semoga
menjadi manfaat bagi kita bersama, bahwa sesungguhnya banyak yang mampu kita
ambil pelajaran dari apa yang kita alami sehari-hari dari hal yang paling kecil
sampai yang paling konyol dan tidak masuk akal sekalipun. (harmadhani adi)
Langganan:
Postingan (Atom)
Pelewat
Ngetweet aku
Kenal Aku
- Harmadhani Adi
- Malang, Jawa Timur, Indonesia
- just undefined boy who always wanna be better person as i could.



