Jumat, 27 Januari 2012

"Mahasiswa" : Kritis, Apatis atau Anarkis


MAHASISWA?  
Mahasiswa merupakan suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya karena ikatan dengan perguruan tinggi. Mahasiswa juga merupakan calon intelektual atau cendekiawan muda dalam suatu lapisan masyarakat yang sering kali syarat dengan berbagai predikat.  

Pengertian Mahasiswa menurut Knopfemacher (dalam Suwono, 1978) adalah merupakan insane-insan calon sarjana yang dalam keterlibatannyadengan perguruan tinggi ( yang makin menyatu dengan masyarakat), dididik dan di harapkan menjadi calon-clon intelektual.
 Dari pendapat di atas bisa dijelaskan bahwa mahasiswa adalah status yang disandang oleh seseorang karena hubungannya dengan perguruan tinggi yang diharapkan menjadi calon-calon intelektual.


harapan dari semua orang saat mereka kuliah dan menjadi mahasiswa adalah menjadi seorang yang lebih baik dalam segi intelektual, emosional, dan sosial. tentunya banyak aspek yang perlu dipelajari saat kita menjadi mahasiswa, mahasiswa seharusnya sudah mempunyai kesadaran mandiri akan dirinya sendiri. sebuah kewajiban untuk menjadi orang yang sukses di masa datang, kewajiban untuk menjadi seorang agent of change dalam masyarakat yang diharapkan mampu membawa perubahan positif dalam masyarakat. tidak menjadi seseorang yang melulu berada di bangku kampus mengabiskan waktunya terbuang percuma mendegarkan celotehan dosen mereka, tetapi juga aktif dalam peningkatan kemampuan bersosial, dan melatih emosional mereka. ketiga aspek ini diharapkan mampu diseimbangkan sehingga tercapai suatu sinergi yang positif untuk membawa perubahan yang positif pula diluarnya. 


akan tetapi buruknya. yang terjadi di kehidupan mahasiswa sekarang adalah, tidak terjadinya keseimbangan antara ketiga aspek ini. banyak tipe-tipe mahasiswa yang menurut hemat saya kurang sadara akan esensi mereka berkuliah. dan saya telah melakukan pengamatan singkat terhadap beberapa teman dan kawan saya. yang akhirnya membentuk pemikiran saya untuk mengklasifikasikan mahasiswa dalam 3 kelompok. 


Mahasiswa Apatis
sungguh suatu fenomena yang sangat menyedihkan saat menjumpai mahasiswa yang apatis (saya tekankan bahwa disini tidak ada tipe mahasiswa yang paling baik atau paling buruk, semua setara, dan saya akan menjelaskan kenapa seperti itu). mahasiswa apatis adalah mahasiswa yang merasa bahwa kehidupan disekitarnya tidak penting karena tidak memberikan pengaruh langsung kepada mereka. sangat menyedihkan saat semua mahasiswa berakhir seperti ini. amarah, kebingungan, kekecewaan yang timbul akibat kesalah kaprahan lingkungan sekitar membuat mereka apatis dengan kehidupan sosial mereka. mereka akan menjadi sangat tidak perduli dengan apa yang terjadi di masyarakat, masa bodoh dengan mereka yang menyuarakan aspirasi, menyalahkan pemerintah, mendukung gerakan sampah, mereka sudah buta akan hal seperti ini, menganggap semua hanya angin lalu yang tak akan pernah menerpa diri mereka. mereka hanya akan peduli terhadap hal yang berpengaruh langsung pada masa depan dan masa sekarang mereka sendiri. 
suatu perilaku yang buruk akan tetapi POSITIFNYA adalah, mereka justru memiliki control emosi yang cukup netral, mereka bisa membela sesuatu atau melawan sesuatu tanpa memandang beberapa golongan yang mereka anggap menyesatkan. mahasiswa seperti ini beberapa memiliki intelektual yang cukup tinggi tetapi juga beberapa memiliki ketidakpedulian terhadap intelektual mereka sendiri. mahasiswa yang memiliki intelektual dan apatis inilah yang akhirnya akan membentuk orang - orang teknis yang berpikir tentang sistem yang akan membawa efisiensi dan efektifitas yang diharapkan mampu membantu masyarakat dalam kehidupan sehari hari. sementara beberapa yang tidak peduli dengan intelektualnya akan menjadi mahasiswa yang sempat tidak berguna akan tetapi dimasa kemudian tidak akan ada yang pernah tahu tentang masa depan cerah mereka sendiri (artikan secara positif). 


Mahasiswa Kritis
meskipun seharunsya mahasiswa menjadi seorang yang kritis, tapi saya pribadi tidak menyukai mahasiswa seperti ini. banyak sekali mahasiswa yang menyuarakan pendapat sampah yang tidak berisi yang sesungguhnya mereka sendiri tidak paham dengan apa yang mereka suarakan. ada 2 macam mahasiswa seperti ini. yang pertama adalah mahasiswa yang kritis dan berintelektual. sangat menyenangkan saat mereka menghujat, menyalahkan, dan mendukung sesuatu hal tidak cuma mengupas masalahnya tetapi juga solusinya. mereka adalah pribadi2 yang saya rasa sangat cocok menduduki posisi top management. karena kebijaksanaan yang dihasilkan dari control emosi, kepiawaian yang dihasilkan dari intelektualitas, serta ketepatan mengatasi masalah yang dihasilkan dari kontrol sosial akan menghasilkan suatu sinergi positif yang membuat mahasiwa kritis inilah menjadi suatu esensi dari mahasiswa itu sendiri. 
sementara mahasiswa yang satu lagi adalah mahasiswa bodoh yang sok sokan berbicara karena tidak adanya pemikiran yag matang sebelumnya, inilah yang paling menyebalkan. sekarang di indonesia semakin banyak mahasiswa yang menamakan mereka mahasiswa kritis tapi sebenarnya mereka hanyalah sekumpulan kaleng sampah kosong yang tidak berguna. mereka bisa sangat ramai akan hal2 yang terkadang kurang berguna tapi didalam otak mereka sendiri sebenarnya hanyalah otak kosong yang dipaksakan. banyak orang menyuarakan dan mempermaslahkan hal yang sangat kecil dan kurang berguna untuk didiskusikan tetapi ramainya minta ampun. sebenarnya mereka masalah yang dipermasalahkan sudah terselesaikan akan tetapi karena kekonyolan beberapa orang inilah yang membuat masalahnya jadi runyam, hal ini terjadi karena mereka tidak mengetahui dengan pasti semua seluk beluk yang ada dalam masalahnya. yang mereka kupas hanya isinya, tetapi kulit tipis dari jeruk dan buah salak tidak pernah dikupas bahkan isinya juga dibuang percuma. sehingga mereka hanya bisa mempermasalahkan yang kemungkinan bisa memberkian manfaat bagi golongan mereka tanpa memikirkan solusinya yang tepat untuk kepentingan bersama. budaya seperti ini memang harus ada dalam mahasiswa akan tetapi akan sangat bijak saat kesadaran mandiri mereka berkata hal seperti ini tak perlu diteruskan. 
yang saya harapkan adalah mahasiswa bisa menjadi kontrol sosial yang kritis tapi juga apatis akan hal2 yang bersifat provokatif. berikan pemecahan masalah pada setiap apa yang kalian permasalahkan, akan membat diskusi tak perlu menjadi perdebatan anjing yang tidak berguna (maaf bahasa saya kasar karena inilah urek2 harmadhani adi). 


Mahasiswa Anarkis
sekumpulan mahasiswa yang menurut saya kurang berguna mereka berada di bangku pendidikan. mereka bisa menyuarakan pendapat mereka dengan kekerasan yang merugikan, hey kalian ini mahasiswa berintelktual, gunakan otak kalian jangan otot kuli kalian. mereka bisa menjadi sangat anarkis karena kekecewaan mereka terhadap suatu hal yang dirasa merugikan beberapa golongan dan kepentingan mereka. seharusnya mereka melihat dari berbagai aspek apakah langkah yang dlikukan akan suatu kebijakan itu sudah tepat sasaran atau merata. seharusnya mereka memiliki kontrol emosi untuk melihat hal keruh sejernih jernihnya. harusnya suatu kebijakan mencakup untuk semua kepentingan yang cukup bukan satu kepentingan yang saling tarik menarik untuk dimengangkan. 


demikian lah saya rasa cukup, saya sudah cukup lelah menuliskan satu lagi tulisan sampah yang keluar dari urek-urek ini. mungkin tulisan sampah ini benar adanya tak berguna, tapi saya harap kalian yang memiliki status mahasiswa mengerti dan paham apa esensi kita kuliah, 
bahwa mahasiswa seharusnya kritis tetapi apatis dan tidak anarkis. kritis terhadap kehidupan sosial, apatis terhadap kegiatan anarkis dan agresif terhadap perubahan dan inovasi yang berekmbang sehingga membentuk perkembangan masa yang bermanfaat bagi dunia. saya sangat mengharapkan dalam diri kalian mampu menghasilkan suatu sinergi positif yang membuat mahasiwa akan menjadi berguna di luarnya inilah menjadi suatu esensi dari mahasiswa itu sendiri. 

0 komentar:

Poskan Komentar